Selasa, 17 November 2009

Pensiun Dini

Perusahaan tempat saya bekerja menerapkan program pensiun dini. Program ini dicanangkan demi peningkatan kinerja perusahaan. Dilaksanakan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu, di tiap tahapnya ditentukan target quota tertentu.. Karena merupakan perusahaan bonafid, kompensasi buat karyawan juga menarik sehingga dikategorikan sebagai Golden Shakehand. Apakah lalu karyawan berbondong-bondong mengajukan ? Ternyata tidak !

Saya masih ingat, saat dahulu saya melamar pekerjaan, yang saya cari adalah perusahaan yang mampu memberikan salary tinggi dan bisa menjadi tempat saya bernaung hingga masa pensiun, sekitar usia 56 tahun. Karenanya PHK menjadi ancaman yang menakutkan. Berbeda dengan skenario dulu, saat ini mendadak dua jalan terbentang di depan, dimana karyawan diberi kebebasan memilih salah satu diantaranya : meneruskan bekerja atau berhenti dengan sejumlah kompensasi. Tentu saja tidak semua orang siap mendapat pilihan seperti ini. Tidak semua orang siap mengambil tanggung jawab untuk membuat keputusan sepenting ini.

Keragaman reaksi karyawan menghadapi program pensiun dini tergantung kondisi mereka masing-masing. Kondisi dimaksud yaitu kondisi kesiapan finansial, kesiapan lahan lain untuk mencari nafkah, kondisi kebutuhan hidup ke depan, kesiapan mengubah cara berfikir dan bertindak, kesiapan ketrampilan, kemampuan memahami peluang dan ancaman, dan sebagainya. Jika dipolarisasi menjadi siap dan tidak siap, atau minat atau tidak minat, maka kebanyakan adalah tidak siap sehingga tidak berminat.

Tak usah heran ! Cara berpikir karyawan sangat berbeda dengan cara berpikir wirausahawan. Para wirausahawan, atau para karyawan yang sudah memiliki pola pikir wirausahawan, mungkin dengan tanpa ragu akan segera mengambil kesempatan ini. Tidak demikian halnya dengan karyawan. Mereka tidak terbiasa berbenturan langsung dengan peluang dan resiko seperti ini. Selama ini hasil kerja mereka umumnya tidak sangat sensitif mempengaruhi uang yang akan masuk ke kocek mereka. Berbeda dengan wirausahawan. Jika hasil kerja buruk, keuntungan pun tidak mengalir masuk. Bahkan bisa jadi uang melayang. Ngeri deh...!

Selain itu, ketidakberminatan bisa saja karena kondisi di perusahaan memang dirasa jauh lebih baik dan lebih memberikan peluang dibanding kondisi di luar perusahaan (maklum, perusahaan bonafid...). Belum ada kondisi yang memaksa mereka harus menempuh resiko sebesar itu. Dan sebagian lagi yang tidak berminat adalah karena masa kerjanya belum cukup panjang sehingga nilai kompensasinya juga kecil.

Tapi, untunglah target jumlah karyawan yang perlu dikurangi oleh program pendi ini tidak terlalu besar. Sehingga meskipun lebih banyak karyawan yang tidak berminat, jumlah peminat tetap memenuhi target, bahkan kadang lebih besar sehingga ada yang tidak disetujui. Ada kesempatan untuk mengajukan lagi di program pendi berikutnya.

Namun persetujuan bukan semata karena target/quota, ada juga pertimbangan kinerja karyawan. Disinilah yang sering memunculkan perasaan sedih, gembira, bahkan lucu. Perasaan sedih muncul di saat ada karyawan yang sebenarnya tidak siap menjalani pendi, namun juga tidak siap menghadapi tantangan kerja ke depan sehingga kinerjanya juga buruk. Perasaan gembira dirasakan oleh karyawan yang sudah tertekan dan merasa tidak mampu menghadapi dinamika pekerjaan, atau memiliki peluang bagus di luar sana, dan memandang program pendi sebagai solusi terbaiknya.

Lalu dimana letak lucunya ? Seorang karyawan yang memiliki kinerja baik, menurut aturan tidak akan disetujui pengajuan pendinya. Bila biasanya seorang karyawan akan berlomba-lomba meraih nilai kinerja yang baik untuk peningkatan karir, pemohon pendi justru khawatir bila nilainya baik. Jadi jangan heran bila ada karyawan yang memohon kepada atasannya agar dinilai buruk. Lucu sekaligus ironis !

Nah, uraian di atas adalah pensiun dini versi karyawan. Kalau anda membaca buku-bukunya Robert Kiyosaki, disana istilah pensiun dini juga digunakan bagi pengusaha yang ingin berhenti dari bisnis karena telah mencapai kebebasan finansial. Sisa usianya akan digunakan untuk menikmati hidup atau untuk kegiatan sosial dan keagamaan. Disini, istilah pensiun dini diperluas sehingga berlaku bagi karyawan maupun pengusaha.

Konsep pensiun dini yang diperluas ini menurut hemat saya perlu dipahami para kawula muda. Kepada anak-anak saya, konsep ini sudah mulai saya perkenalkan sejak usia sekolah. Saya berharap mereka memiliki cara pandang yang berbeda terhadap pekerjaan dan usaha, dibanding cara pandang saya ketika muda dulu.

Saya menginginkan anak-anak saya memasuki dunia kerja atau dunia usaha dengan kesadaran penuh disertai tujuan yang jelas. Formulasi tujuan yang jelas ukurannya akan memungkinkan direncanakan waktu pencapaiannya. Dengan demikian mereka mampu mengatakan bahwa mereka berencana akan bekerja atau berbisnis hingga usia tertentu dan mencapai suatu kondisi tertentu. Tidak harus sampai usia 56 tahun. Masalah tercapai atau tidak itu lain soal.

Cara berpikir yang berbeda diharapkan akan memunculkan tindakan yang berbeda. Kalau mereka ingin pensiun lebih awal, tentunya mereka perlu mempersiapkan diri lebih baik, upaya lebih keras, pemanfaatan waktu lebih efektif, pemanfaatan hasil kerja/usaha lebih terencana, dan terus melakukan evaluasi terhadap pencapaiannya serta melakukan tindak lanjut yang tepat untuk lebih mendekatkan kepada tujuan. Dan satu lagi, bila ditawari program pendi yang menguntungkan, mereka lebih siap dalam membuat keputusan.

Yang ingin saya katakan adalah bahwa mereka sebesar mungkin harus mampu dan mau mengendalikan hidup mereka, dan bersedia mengambil keputusan-keputusan yang berkaitan dengan hidup mereka. Tidak menyerahkan kepada pihak pemerintah atau pun perusahaan, seperti yang lazim terjadi saat ini. Kalau harus bergantung, bergantunglah hanya kepada Allah Sang Pencipta.

Nah, siapa peminat pendi berikutnya ?.


0 Comments:

Posting Komentar

Komentar Anda, Harapan Saya

blogger templates | Make Money Online