Kamis, 17 Desember 2009

Kebutuhan Hidup

Seorang kawan saya, yang berasal dari satu pulau kecil di kawasan timur Indonesia, pernah berceritera tentang masa remajanya di pulau tersebut. Sebagian penduduk mengandalkan hidup dari alam, dengan bertani dan menangkap ikan. Mereka berladang cukup jauh dari rumah, tinggal di ladang selama berminggu-minggu hanya dengan bekal sagu.

Tak ada bekal lauk-pauk. Teman makan sagu adalah ikan yang langsung ditangkap di laut. Menangkap secukupnya untuk lauk makan hari ini, tak ada persediaan untuk besok karena untuk besok ya dicari lagi besok. Laut menyediakan sumber ikan berlimpah, lebih dari cukup kalau hanya sekedar untuk mengisi perut. Tak ada kekhawatiran besok tak ada ikan untuk lauk.

Perkakas yang dimiliki sekedarnya saja untuk keperluan tidur dan makan. Tentu saja tak ada yang namanya radio, televisi, dan sejenisnya. Listrik tidak ada, bahkan minyak tanah tidak diperlukan karena penerangan tidak dibutuhkan. Jika dibutuhkan penerangan, mereka bisa membakar kayu-kayu kering.

Anak-anak mereka ada yang bersekolah dan ada juga yang tidak. Bekal yang mereka berikan kepada anak-anak berupa kemampuan langsung beradaptasi dengan alam, lebih banyak berupa ’on the job training’.

Mendengar kisah di atas, saya tercenung. Ternyata hidup bisa sesederhana itu, ternyata tubuh kita hanya butuh itu. Lalu dari mana datangnya berbagai kebutuhan hidup yang saat ini dirasakan oleh manusia pada umumnya di dunia ? Kebutuhan yang membuat manusia saling sikut, saling serang, menghalalkan perbuatan tidak jujur ? Kebutuhan yang terus meningkat, baik jumlah dan ragamnya, dan telah menguras habis banyak sumberdaya di bumi ini ? Apakah hasilnya sepadan, terutama bila dikaitkan dengan tujuan keberadaan manusia di muka bumi ini ? Astaghfirullah, saya pun terjebak di dalamnya.

Selengkapnya.....

Jumat, 11 Desember 2009

Resep Awet Muda

Tamu yang datang ke ruangan saya sering mengatakan bahwa saya termasuk awet muda jika dibandingkan dengan usia saya. Entah benar entah cuma basa-basi, gak penting amat sih. Yang pasti, mereka sudah berbaik hati kepada saya. Ucapan itu ’kan doa. Semoga saja saya betul-betul awet muda, minimal semangat saya. Tul apa betul ?

Sungguh suatu hal yang tidak saya sengaja bila dalam perjalanan hidup saya lebih banyak berada di lingkungan yang lebih muda usianya. Begitu lepas SMA, mulailah pengalaman saya bergaul dengan komunitas yang lebih muda. Saat mengikuti pendidikan dasar di tempat kerja, rekan-rekan saya rata-rata usianya dua tahun di bawah saya. Saat saya mengambil S-1, saya bergabung dengan rekan-rekan berusia 10 tahun lebih muda. Yah, kemungkinan besar saya memang tertinggal masa. Istilah anak saya : kacian de loe !

Di luar dunia pendidikan, saya pun mengalami hal yang sama. Saat berkesempatan memimpin satu usaha kecil, saya dikelilingi personil-personil muda usia. Segar juga hawa terasa. Dan di tempat kerja, karena mengelola produk telekomunikasi dan informasi, sebagian besar rekan-rekan kerja di garis depan juga kalangan muda usia.

Apakah karena terpaksa atau memang terbawa, irama kerja saya pun sering dibilang lupa usia. Apalagi memimpin unit bisnis dengan 20.000 pelanggan yang harus dilayani dengan SDM terbatas, tidak ada waktu untuk berleha-leha dengan alasan tua. Wawasan dan ketrampilan harus terus di update mengikuti perkembangan bisnis.

Semangat yang saya tampilkan pastinya akan mempengaruhi semangat tim secara keseluruhan. Makanya meski terseok-seok, tersaruk-saruk, saya harus jalan terus. CPU memang sudah mulai lemot, banyak hardware juga sudah mulai karatan, tapi tidak bisa jadi alasan. Beruntunglah, atmosfer muda di sekeliling bak obat awet muda penambah tenaga. Betul itu lho !

Kadang muncul juga pemikiran apakah ini tidak terlalu memaksakan diri ? Jangan-jangan dianggap tidak tahu diri dan lupa usia. Mirip Oom Boyke di lagunya Bimbo dulu. Tapi mau gimana lagi ? Seperti saya katakan di atas, saya sering kesasar ke gerbong yang lebih muda. Apakah karena saya memang pencari daun muda ? He...he...he...Gak juga, ah ! Bukan maunya saya kok ! Berdasarkan hasil survey, saya juga bukan tipe orang thukmis cunihin gitu.

Nah, sekarang saya mulai ngeblog. Awalnya sih (beberapa bulan lalu) karena tuntutan pekerjaan, tapi akhirnya tertarik beneran meski modal ilmunya pas-pasan. Kembali seperti biasanya, di dalamnya juga bertaburan anak-anak muda dan orang-orang bersemangat muda. Demikian pinter-pinter dan berwawasan luas sehingga membuat saya terkagum-kagum dan merasa tidak tahu apa-apa. Gairah saya untuk belajar terbangkitkan olehnya.

Ternyata bergaul di lingkungan anak muda yang dinamis membuat pikiran kita terbawa dinamis. Lingkungan muda yang penuh canda tawa, belum banyak diganggu beban kehidupan dan sarat memancarkan optimisme kehidupan. Kalau anda ingin merasa hidup, beradalah di lingkungan yang penuh nafas kehidupan. Kalau anda ingin merasa muda, bergaullah di lingkungan yang penuh gelora semangat muda.

Nah, sekarang sudah jelas kan bagaimana resep awet muda yang saya maksudkan ? Semoga saja para kaum muda tidak terganggu karenanya.


Selengkapnya.....

Rabu, 02 Desember 2009

Bank Century, terimakasih....

Gara-gara kasus bank Century demikian kerap muncul di teve, obrolan santai di keluarga saya jadi agak berubah. Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah muncul di pembicaraan, sekarang mencuat. Setiap anggota keluarga merasa perlu mempertanyakannya.

Yang saya suka, obrolan kami tentang bank Century tidak pada gonjang-ganjing kasusnya yang memunculkan sedemikian banyak perdebatan (memang saya hindari). Tidak juga membicarakan indivisu-individu yang terlibat di dalamnya. Yang muncul adalah keingintahuan tentang perbankan. Akhirnya. masalah perbankan yang selama ini tidak pernah kami bicarakan, sekarang jadi menarik perhatian untuk bahan perbincangan.

Anak bungsu saya yang kelas satu smp menjadi tertarik untuk mengetahui aliran uang yang dia tabung. Uangnya disimpan dimana sih ? Kok bisa mengambil di atm dimana mana yang jauh dari bank ? Oleh bank uangnya disimpan saja atau dipakai dulu ? Saya berusaha menjelaskan secara sederhana sesuai tingkat usianya. Kadang kakaknya yang menjelaskan bila saya tidak siap. Terlihat pemahamannya ada peningkatan.

Anak kedua saya yang duduk di kelas satu sma punya pertanyaan lain lagi. Ia lebih tertarik kepada asal-usul bunga yang dibayarkan oleh bank kepada penabung. Dia juga menanyakan mengapa banyak orang senang meminjam uang di bank, mengapa banyak pengusaha yang kaya-kaya banyak hutangnya di bank. Pertanyaan-pertanyaan ini membuka peluang saya untuk menyampaikan konsep hutang dalam usaha. Biasanya, mana tertarik dia dengan urusan demikian.

Kalau si sulung, yang hanya seminggu sekali pulang karena kuliah di kota lain, lebih banyak membahas tentang kemungkinan-kemungkinan terjadinya penyelewengan, aturan dan kebijakan, dan hal-hal yang bersifat prosedural. Karena kami sekeluarga tidak ada yang punya basic ilmu perbankan, ya biasanya cuma bisa mengira-ira atau melakukan analisa ringan saja tentang kemungkinannya. Tapi selalu kami hindari untuk membicarakan kasus yang tengah terjadi. Karena kami memang tidak punya kemampuan tentang itu.

Karena keingintahuan anak-anak saya ini bersifat positif, saya berusaha mencari referensi seputar bank lewat berbagai media. Anak-anak saya bisa terjawab pertanyaannya, saya pun jadi ikut belajar. Makanya wajar kan kalau di judul saya mengucapkan terima kasih kepada bank Century. Bukan kepada banknya, tapi kepada pemberitaan kasusnya yang mendorong pembelajaran tentang perbankan di keluarga saya.

Ada satu yang tertinggal, yaitu komentar istri saya. Lha, kalau istri saya lain lagi. Komentarnya biasanya begini : kok ada ya orang punya uang segitu banyaknya ? Buat apa saja ya uang sebanyak itu ? (he...he...he...). Nah, kalau topiknya sudah bergeser kesini, biasanya saya akan berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Karena sudah pasti anak-anak juga mulai terpengaruh.

Ada yang menagih janji karena belum dibelikan alat sekolahnya, ada yang lapor rencana akan berwisata bersama teman sekelas, dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya minta disediakan uang. Kalau sudah begini topik bank Century sudah tidak menarik lagi. Maka segera saya tutup diskusinya. Seperti juga saya akhiri saja artikel ini.

Pis...ah


Selengkapnya.....

Selasa, 24 November 2009

Learning by Doing by Teaching

Banyak cara untuk belajar. Dari cara belajar tradisional seperti yang kita jalani sejak TK dulu, hingga cara belajar online seperti yang sedang ngetren sekarang. Anda juga mungkin pernah mendengar metode quantum learning, ada mind mapping yang berusaha memetakan apa yang kita baca. Di perusahaan-perusahaan sering didengungkan program kegiatan Learning by Doing. Tapi pernahkah anda mendengar Learning by Doing by Teaching ?

Di perusahaan tempat saya bekerja memiliki beberapa program pelatihan yang bersifat learning by doing. Diantaranya adalah program On the Job Training (OJT), dimana pelatihan dilakukan langsung di lokasi kerja dan menyelesaikan langsung tugas-tugas nyata. Selain itu, banyak jenis kegiatan yang lebih informal dilakukan dengan pola tersebut. Biasanya merupakan bagian dari tanggung jawab atasan terhadap pembinaan para bawahannya.

Di dalam masyarakat, praktek learning by doing bahkan sudah merupakan hal biasa. Orang-orang yang kebetulan kurang beruntung bisa menikmati pendidikan, ketrampilan yang dimiliki banyak diperoleh dari proses learning by doing. Orang yang kerja/usaha modal nekat, juga menggantungkan harapannya dari proses learning by doing. Dan Stop Dreaming Start Action juga sebenarnya menganjurkan orang agar berani langsung mencoba, dan belajarnya sambil berjalan.

Ada satu lagi cara belajar yang kurang populer dibahas, yaitu Learning by Teaching. Ini biasa saya lakukan dulu semasa sekolah/kuliah. Karena memiliki banyak grup belajar, saya hampir tidak memiliki waktu untuk belajar sendiri. Namun justru proses mengajari teman-teman ini yang membuat nilai-nilai saya selalu bagus. Mengapa bisa begitu ?

Karena punya beban harus bisa menjawab pertanyaan teman yang kesulitan pelajaran, karena punya tanggung jawab harus mampu mengajarkan ulang materi-materi yang diberikan guru/dosen, saya menjadi lebih konsentrasi saat menerima pelajaran. Anda yang mengalami hal ini pasti juga paham bahwa untuk mampu mengajarkan ulang ke orang lain, penguasaan materi juga tak boleh tanggung. Dan pada saat proses transfer ulang ke teman-teman, tanpa disadari saya terus menerus mengulang pelajaran. Gimana gak hebat ?

Nah, sekarang akan saya kenalkan metode gabungan dari ketiga hal di atas, yaitu Learning, Doing, dan Teaching. Namanya seperti judul posting ini, yaitu metode Learning by Doing by Teaching (he..he…he… ngarang aja biar keren). Bisa dibayangkan, betapa kerennya bila hal ini bisa dilaksanakan. Bisakah ?

Kenapa tidak ? Ada masanya nanti dimana waktu semakin berharga, alokasi waktu untuk belajar semakin sedikit, tugas-tugas yang membutuhkan kemampuan baru sudah antri menunggu diselesaikan, dan pelaksanaannya membutuhkan kerjasama tim. Kondisi semacam inilah kira-kira yang membutuhkan jurus tersebut. Mengada-ada ? O, tidak ! Saya pernah mengalaminya.

Saat itu unit kerja saya memperoleh peralatan baru. Tanpa sempat diberi pelatihan, peralatan tersebut harus segera diinstal dan dioperasikan. Banyak karyawan di unit saya harus dilibatkan karena mereka kelak yang nantinya harus mengoperasikan sehari-harinya. Dan saat itu, sayalah yang relatif memiliki bekal pendidikan teknik yang paling tinggi. Maka menjadi tugas sayalah untuk memandu, mengarahkan, dan mengajari anggota tim lainnya. Huaduuuhhh !!

Mengawali belajar, eh mengawali kerja, eh mengawali pelatihan....ya mengawali tiga-tiganya, saya sampaikan bahwa saya bukan akan mengajari tapi kita belajar bersama-sama. Dan kali ini bukan basa-basi seorang pelatih, memang benar adanya. Selanjutnya berbekal instruction manual yang ada, mulailah kami beraksi. Try and error, namun tetap memperhatikan keselamatan perangkat baru tersebut, dan keselamatan kami semua tentunya.

Alhamdulillah, setelah berjalan dua mingguan, peralatan berhasil diinstal dan dioperasikan. Proses belajar, bekerja, dan mengajar berakhir. Hasilnya sungguh luar biasa, meski diperoleh dari kondisi yang kepepet. Atau memang selalu diperlukan situasi kepepet untuk membuat hal-hal kreatif ? Entahlah ! Yang jelas kami semua puas denagn hasilnya.

Pemahaman semua anggota tim bisa dibilang cukup baik, lebih baik dari sekedar pelatihan biasa. Bisa dipahami karena pada saat prosesnya kami semua sering mengalami kebingungan bersama, kebuntuan bersama, meski akhirnya juga bisa dipecahkan bersama. Saya sendiri yang belajar sambil merangkap jadi mentor ikut merasakan bahwa kegiatan tersebut mempercepat proses belajar saya serta terasa lebih mendalam.

Demikianlah Learning by Doing by Teaching. Mau coba ? Silakan mencari penerapan yang sesuai


Selengkapnya.....

Selasa, 17 November 2009

Pensiun Dini

Perusahaan tempat saya bekerja menerapkan program pensiun dini. Program ini dicanangkan demi peningkatan kinerja perusahaan. Dilaksanakan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu, di tiap tahapnya ditentukan target quota tertentu.. Karena merupakan perusahaan bonafid, kompensasi buat karyawan juga menarik sehingga dikategorikan sebagai Golden Shakehand. Apakah lalu karyawan berbondong-bondong mengajukan ? Ternyata tidak !

Saya masih ingat, saat dahulu saya melamar pekerjaan, yang saya cari adalah perusahaan yang mampu memberikan salary tinggi dan bisa menjadi tempat saya bernaung hingga masa pensiun, sekitar usia 56 tahun. Karenanya PHK menjadi ancaman yang menakutkan. Berbeda dengan skenario dulu, saat ini mendadak dua jalan terbentang di depan, dimana karyawan diberi kebebasan memilih salah satu diantaranya : meneruskan bekerja atau berhenti dengan sejumlah kompensasi. Tentu saja tidak semua orang siap mendapat pilihan seperti ini. Tidak semua orang siap mengambil tanggung jawab untuk membuat keputusan sepenting ini.

Keragaman reaksi karyawan menghadapi program pensiun dini tergantung kondisi mereka masing-masing. Kondisi dimaksud yaitu kondisi kesiapan finansial, kesiapan lahan lain untuk mencari nafkah, kondisi kebutuhan hidup ke depan, kesiapan mengubah cara berfikir dan bertindak, kesiapan ketrampilan, kemampuan memahami peluang dan ancaman, dan sebagainya. Jika dipolarisasi menjadi siap dan tidak siap, atau minat atau tidak minat, maka kebanyakan adalah tidak siap sehingga tidak berminat.

Tak usah heran ! Cara berpikir karyawan sangat berbeda dengan cara berpikir wirausahawan. Para wirausahawan, atau para karyawan yang sudah memiliki pola pikir wirausahawan, mungkin dengan tanpa ragu akan segera mengambil kesempatan ini. Tidak demikian halnya dengan karyawan. Mereka tidak terbiasa berbenturan langsung dengan peluang dan resiko seperti ini. Selama ini hasil kerja mereka umumnya tidak sangat sensitif mempengaruhi uang yang akan masuk ke kocek mereka. Berbeda dengan wirausahawan. Jika hasil kerja buruk, keuntungan pun tidak mengalir masuk. Bahkan bisa jadi uang melayang. Ngeri deh...!

Selain itu, ketidakberminatan bisa saja karena kondisi di perusahaan memang dirasa jauh lebih baik dan lebih memberikan peluang dibanding kondisi di luar perusahaan (maklum, perusahaan bonafid...). Belum ada kondisi yang memaksa mereka harus menempuh resiko sebesar itu. Dan sebagian lagi yang tidak berminat adalah karena masa kerjanya belum cukup panjang sehingga nilai kompensasinya juga kecil.

Tapi, untunglah target jumlah karyawan yang perlu dikurangi oleh program pendi ini tidak terlalu besar. Sehingga meskipun lebih banyak karyawan yang tidak berminat, jumlah peminat tetap memenuhi target, bahkan kadang lebih besar sehingga ada yang tidak disetujui. Ada kesempatan untuk mengajukan lagi di program pendi berikutnya.

Namun persetujuan bukan semata karena target/quota, ada juga pertimbangan kinerja karyawan. Disinilah yang sering memunculkan perasaan sedih, gembira, bahkan lucu. Perasaan sedih muncul di saat ada karyawan yang sebenarnya tidak siap menjalani pendi, namun juga tidak siap menghadapi tantangan kerja ke depan sehingga kinerjanya juga buruk. Perasaan gembira dirasakan oleh karyawan yang sudah tertekan dan merasa tidak mampu menghadapi dinamika pekerjaan, atau memiliki peluang bagus di luar sana, dan memandang program pendi sebagai solusi terbaiknya.

Lalu dimana letak lucunya ? Seorang karyawan yang memiliki kinerja baik, menurut aturan tidak akan disetujui pengajuan pendinya. Bila biasanya seorang karyawan akan berlomba-lomba meraih nilai kinerja yang baik untuk peningkatan karir, pemohon pendi justru khawatir bila nilainya baik. Jadi jangan heran bila ada karyawan yang memohon kepada atasannya agar dinilai buruk. Lucu sekaligus ironis !

Nah, uraian di atas adalah pensiun dini versi karyawan. Kalau anda membaca buku-bukunya Robert Kiyosaki, disana istilah pensiun dini juga digunakan bagi pengusaha yang ingin berhenti dari bisnis karena telah mencapai kebebasan finansial. Sisa usianya akan digunakan untuk menikmati hidup atau untuk kegiatan sosial dan keagamaan. Disini, istilah pensiun dini diperluas sehingga berlaku bagi karyawan maupun pengusaha.

Konsep pensiun dini yang diperluas ini menurut hemat saya perlu dipahami para kawula muda. Kepada anak-anak saya, konsep ini sudah mulai saya perkenalkan sejak usia sekolah. Saya berharap mereka memiliki cara pandang yang berbeda terhadap pekerjaan dan usaha, dibanding cara pandang saya ketika muda dulu.

Saya menginginkan anak-anak saya memasuki dunia kerja atau dunia usaha dengan kesadaran penuh disertai tujuan yang jelas. Formulasi tujuan yang jelas ukurannya akan memungkinkan direncanakan waktu pencapaiannya. Dengan demikian mereka mampu mengatakan bahwa mereka berencana akan bekerja atau berbisnis hingga usia tertentu dan mencapai suatu kondisi tertentu. Tidak harus sampai usia 56 tahun. Masalah tercapai atau tidak itu lain soal.

Cara berpikir yang berbeda diharapkan akan memunculkan tindakan yang berbeda. Kalau mereka ingin pensiun lebih awal, tentunya mereka perlu mempersiapkan diri lebih baik, upaya lebih keras, pemanfaatan waktu lebih efektif, pemanfaatan hasil kerja/usaha lebih terencana, dan terus melakukan evaluasi terhadap pencapaiannya serta melakukan tindak lanjut yang tepat untuk lebih mendekatkan kepada tujuan. Dan satu lagi, bila ditawari program pendi yang menguntungkan, mereka lebih siap dalam membuat keputusan.

Yang ingin saya katakan adalah bahwa mereka sebesar mungkin harus mampu dan mau mengendalikan hidup mereka, dan bersedia mengambil keputusan-keputusan yang berkaitan dengan hidup mereka. Tidak menyerahkan kepada pihak pemerintah atau pun perusahaan, seperti yang lazim terjadi saat ini. Kalau harus bergantung, bergantunglah hanya kepada Allah Sang Pencipta.

Nah, siapa peminat pendi berikutnya ?.


Selengkapnya.....

Senin, 16 November 2009

Bermain Perspektif



Seorang kawan saya, Fahmi, yang supervisor di sebuah perusahaan curhat tentang pekerjaannya. Katanya dia diminta oleh atasannya agar lebih memperhatikan detail kerja bawahannya. Bukannya tidak mau, kawan saya ini merasa bahwa dia mesti mengawasi banyak orang dan mesti memperhatikan keseluruhan peran unitnya. Belum lagi hubungannya dengan unit kerja lain. Dia merasa akan tidak efektif bila mengurus terlalu detail suatu permasalahan.

Lain lagi kasus Iwan, kawan saya yang koordinator teknisi di satu perusahaan elektronika. Dia justru di tegur atasannya karena terlalu asyik bila menangani suatu proyek, sampai lupa mengkoordinir tugas teknisi lain yang dalam tanggung jawabnya. Maklum Iwan ini memang mulai dari bawah, dan menyukai pekerjaannya bukan sebatas tugas saja tapi juga hobi. Lalu bagaimana sebaiknya saran untuk kedua rekan ini ?

Bekerja di level supervisor memang pekerjaan penuh tantangan. Supervisor berhadapan langsung dengan para pekerja, yang kadang beragam level pendidikan dan berupah paling rendah di struktur perusahaan. Bukan hanya masalah pekerjaan, kadang masalah rumah tangga juga dibawa sampai ke kantor. Hubungan kekeluargaan lebih dominan mewarnai tugasnya, dan membutuhkan banyak empati.

Di sisi lain, supervisor juga mesti memahami permasalahan seluruh unit kerjanya. Karena berada di level operasional, unit kerja yang terkait juga banyak. Dan satu lagi, biasanya merupakan tempat penghasilan perusahaan digantungkan, tempatnya uang dicetak kata teman saya. Bila terjadi penurunan kinerja perusahaan, di posisi ini seringkali menjadi tempat tumpuan kesalahan.

Kepada dua kawan saya ini, yang kebetulan datang pada waktu berlainan, saya tunjukan sebuah poster promosi produk berukuran agak besar, tertempel di dinding yang lumayan jauh jaraknya dari tempat kami duduk. Saya minta mereka membaca tulisan-tulisan kecil di dalamnya. Tak terbaca. Karena mereka tak bisa juga membacanya meski sudah berupaya keras, maka saya hanya meminta mereka agar menjelaskan tentang poster itu sebatas apa yang bisa mereka tangkap, termasuk lingkungan sekitar poster.

Agar kedua kawan saya ini tidak protes dan bertanya-tanya, saya bilang bahwa ini hanya game kecil saja. Sambil duduk santai, mereka menjelaskan gambaran besar poster itu, warna garis tepinya, apa yang tertempel di kanan-kirinya, bahkan perkiraan ketinggian poster itu dari lantai. Setelah selesai, selanjutnya saya ajak mereka mendekati poster.

Di depan poster, saja minta mereka lebih mendekat agar detail gambar terlihat jelas, bukan sekedar bisa membaca tulisannya. Selanjutnya saya minta mereka mengatakan apakah garis tepian poster terlihat seutuhnya ? Ternyata tidak. Dengan wajah tetap lurus menghadap poster, saya minta pendapat mereka tentang benda yang ada di kiri-kanan poster dan lain-lain di sekitar poster yang tadi mereka uraikan saat memandang dari jarak jauh. Bagaimana perbedaan yang dirasakan.

Kedua kawan saya ini saya ajak bermain perspektif. Kepada kawan saya Fahmi yang supervisor, saya sampaikan bahwa saya maklum jika dia tidak ingin kehilangan perspektif terhadap peran unitnya di dalam perusahaan. Namun jika dia mengabaikan rincian, mengabaikan kedekatan, maka dia bisa terasing di unitnya. Akan banyak persoalan tidak dipahami akar permasalahannya, dan kalau bawahannya bermental kurang baik bisa-bisa dia akan banyak dibohongi mereka.

Kepada kawan saya Iwan yang koordinator teknisi, saya sampaikan bahwa kalau saya jadi atasannya saya juga akan berbuat sama. Dia telah banyak kehilangan perspektif unit kerjanya, terlalu asyik dengan kesenangannya. Jika diajak bicara topik yang bersifat lebih manajerial pastilah dia akan tergagap-gagap. Dukungannya terhadap unit lain juga akan terganggu, bahkan bisa dibilang sering ’gak nyambung’. Sebagai bagian dari tim, Iwan bukan pemain tim yang baik, karena dia tidak akan banyak tahu apa kebutuhan rekan satu timnya di level supertim (perusahaan).

Kalau di perusahaan saya, kasus Fahmi biasanya terjadi pada pejabat yang menduduki jabatannya karena faktor pendidikan, namun kurang pengalaman. Sedangkan kasus Iwan biasanya terjadi pada pejabat yang merangkak dari bawah, pendidikan terbatas namun kaya pengalaman. Tentu saja tidak harus seperti itu, hanya ada kecenderungan demikian.

Dengan bermain perspektif, memahami kapan harus mendekati poster, serta kapan harus menjauhinya, diharapkan lebih banyak aspek terjembatani. Tahu gambaran besar poster serta lingkungan dimana dia ditempel, tapi juga bisa memahami apa isinya secara lebih detail bila diperlukan. Demikian tujuan permainan perspektif ini. Saya sering menerapkannya dalam tugas keseharian saya.


Selengkapnya.....

Kamis, 12 November 2009

Anak

Menyaksikan putra-putri kita tumbuh beranjak dewasa, terbersit dua rasa : bangga dan risau. Bangga karena sosok anak kita merupakan wujud perjuangan kita. Wujud fisiknya yang gagah atau elok, kecerdasannya, kelincahannya, dan sebagainya yang melengkapi sosok utuh anak kita. Hingga seusianya kini, telah kita lalui dengan segala susah payah disertai pengorbanan yang tidak sedikit, baik moril maupun materiil.

Rasa bangga yang muncul pada kita kadang melebihi yang dirasakan anak kita. Lalu muncul gambaran-gambaran ideal seperti apa seharusnya dia. Nah, ego kita mulai bermain untuk membentuk anak sesuai gambaran ideal tersebut. Apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan, apa yang seharusnya diikuti dan tidak diikuti, dan banyak rambu-rambu lainnya.. Biasanya disinilah konflik mulai timbul antara kita dan anak, ada yang cuma konflik ringan hingga yang kelas berat.

Rasa yang satu lagi, risau karena kita tidak pernah bisa memastikan akan jadi apa kelak mereka setelah dewasa. Juga risau apakah semua nilai-nilai yang kita tanamkan mampu membendung hal-hal negatif yang muncul dari lingkungannya. Upaya maksimal yang kita lakukan tidak bisa menjamin mereka akan seperti yang kita harapkan. Banyak hal terjadi di luar kendali kita.

Kadang kita sering dibuai oleh pendapat normatif bahwa bila si anak memperoleh pendidikan yang baik di rumah, memperoleh teladan yang baik dari orang tuanya, diperkenalkan kepada lingkungan yang sehat, maka si anak juga akan tumbuh dengan baik secara mental. Apakah itu semua sudah betul-betul jaminan ? Kita tahu tidak demikian. Karena anak bukanlah benda yang bisa dibentuk-bentuk seperti itu. Semua yang kita kondisikan jelas akan memiliki pengaruh, namun bukan berarti harus persis seperti yang orang tua inginkan.

Belum lagi pengaruh lingkungan, baik lingkungan pergaulan di rumah, di sekolah, serta di organisasi luar sekolah. Di usia remaja, pengaruh lingkungan ini terkadang bisa mencerai-beraikan semua tatanan moral yang sudah kita bentuk sedari kecil. Tahapan usia yang rawan, masa anak mulai mencari identitas diri, masa pemberontakan jiwa mulai menampakkan diri. Maka konflik pun mulai muncul.

Akhirnya rasa bangga dan risau bisa berujung pada konflik. Betapa menyedihkan jika memikirkan hal ini. Namun tentunya hal ini bukan akhir dunia. Banyak kita jumpai hubungan orang tua – anak yang baik-baik saja, tanpa perlu berkecamuk perang. Tapi hati-hati, hal itu belum tentu juga menandakan kebaikan. Kadang kondisi tenang karena orang tua demikian dominan dan sang anak hanya bisa menurut tanpa berani membantah. Saya pribadi tidak menyukai situasi seperti ini. Atau sebaliknya orang tua terlampau mengalah karena amat sayang pada anak. Juga bukan kondisi yang sehat menurut saya.

Lalu harus bagaimana ? Tidak ada jawaban yang sama yang berlaku untuk setiap orang. Namun puisi Kahlil Gibran berikut kiranya patut menjadi bahan renungan. Gibran memberi batas yang tegas antara posisi orang tua dan anak, melalui pengandaian busur dan anak panah.

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,

tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.


Selengkapnya.....

Selasa, 27 Oktober 2009

Posesif

Hari ini saya belajar memahami betapa posesifnya manusia. Kebetulan lewat, tadi pagi saya mampir sebentar ke rumah salah seorang kawan. Ngobrol di beranda bersama kawan tsb dan istrinya, mengomentari halaman rumahnya yang cukup luas.

”Kalau ditata dengan tanaman, kelihatannya bagus nih Mas ! ujar saya. Istri kawan saya yang menimpali, ” Maunya sih begitu Bang, tapi kurang sreg di hati, lha wong di rumah ini kami cuma ngontrak” ”Dibeli saja to mbak yu, khan sudah cukup lama tinggal disini”, ujar saya mengikuti logat jawanya. ”Sudah masuk tahun ke lima. Tapi kelihatannya yang punya rumah belum niat njual, kami juga belum cukup duitnya”. Kali ini sang suami yang menjawab sambil tertawa. Saya cukup akrab dengan mereka, jadi bisa bicara lepas tanpa sungkan.

Obrolan sekilas tadi mengingatkan saya kepada sikap istri saya sendiri, yang sering mengkritik saya jika memberi makan kepada burung liar yang kadang mendatangi halaman belakang rumah kami. ”Milik kita juga bukan !”, katanya. Sikap yang sama bahkan saya jumpai pada kebanyakan orang. Yaitu adanya rasa kurang sreg, kurang nyaman, atau kurang pas dihati, bila harus merawat sesuatu yang bukan atau belum menjadi miliknya. Alasannya macam-macam. Sia-sia saja nantinya juga diambil yang empunya asli, rasanya tidak dalam kendali 100%,serta segudang alasan lainnya. Bahkan sebagiannya lagi tak bisa menggambarkan secara persis apa alasannya. Pokoknya enggak sreg aja !

Kebanyakan alasannya bukan materi, tapi lebih dominan masalah rasa sreg di hati. Seperti mengurus halaman, bisa dilakukan dengan pengorbanan yang kecil saja, bahkan bisa jadi sarana refreshing. Hasilnya bisa dinikmati tiap hari selagi belum ditinggal pergi. Begitu juga dengan burung liar. Meski burung liar, kadang bisa dilihat dan didengar kicaunya saat santai di halaman belakang. Mau apa lagi

Kadang terlintas di hati, mengapa kita tidak berfikir untuk memelihara saja, tanpa harus memiliki. Memelihara dan terus memelihara, apa saja yang ada di sekitar kita, apa saja yang dalam kemampuan kita, semua yang dikaruniakan Allah kepada kita di dunia. Kalau difikir lebih jauh lagi, apa sih di dunia ini yang benar-benar milik kita ? Semuanya juga hanya pinjam, hanya menyewa, hanya ngontrak. Begitu kita mati, selesailah masa pinjam kita. Hanya masalah lama atau sebentar kita menikmatinya, yang justru sepenuhnya dalam kuasa Allah.

Termasuk juga dengan sosok yang paling dekat dengan kita, 'anak'. Apa sih makna kata-kata 'memiliki anak' itu ? Hati-hati, rasa posesif kita yang berlebihan seringkali merusak hubungan kita dengan anak. Penggalan puisi karya Gibran berikut rasanya cukup pas menggambarkannya.

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.


....................................................................

..................................................................




Selengkapnya.....

blogger templates | Make Money Online